Menurutnya, daripada gas dijual murah kepada asing alangkah lebih baik dijual ke PLN. Ia mengatakan, apabila gas dijual ke Malaysia dengan harga 6,1 dollar AS, PLN akan masih sanggup membeli lebih mahal yakni, 6,5 dollar AS.
Jumadis mengatakan, pihaknya berharap regulasi yang ada menjadi berpihak kepada negara. Ia menyatakan, apabila PLN disediakan gas yang cukup pasti akan bisa menghemat sekitar Rp 60 triliun per tahun. Dijelaskan, gas yang diproduksi di Indonesia kini sekitar 8.000 MMSCFD, namun baru setengahnya yang digunakan domestik. "Separuhnya lagi gas itu diekspor, padahal domestik masih butuh gas alam," ungkapnya.
Jumadis menilai, penggunaan gas alam lebih hemat seperlima dari minyak. Ia mencontohkan, bila menggunakan minyak seharga Rp 10 ribu per liter, namun kalau memakai gas Rp 2 ribu setara liter. Minimnya pasokan gas membuat PLN masih banyak membakar solar bersubsidi selain batubara untuk pembangkit listriknya.
Sementara itu, Deden Adityadharma, selaku Ketua Umum SP PLN menerangkan pada 2011 PLN membakar solar subsidi sebanyak Rp 93 triliun. "Angka itu naik pada 2012 menjadi sebanyak Rp 103 triliun, dan 2013 sedikit turun menjadi Rp 101 triliun," terangnya.
Apabila pasokan gas tercukupi, lanjutnya, PLN akan bisa menghasilkan listrik dengan biaya produksi Rp 600 per kilowatthour (KWH). "Dengan nilai itu, walaupun dijual dengan harga Rp 700 per KWH, PLN akan masih untung dan tidak perlu subsidi," jelasnya.(*/ris)


