IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Kampanye Parpol Terkait Energi: "Miskin" Visi dan Sarat Retorika Politik

Kampanye Parpol Terkait Energi: "Miskin" Visi dan Sarat Retorika Politik

Written By Unknown on Tuesday, 8 April 2014 | 14:18

indoPetroNews.com - Besarnya subsidi BBM yang membebani APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) hanyalah satu dari sekian banyak persoalan energi yang dihadapi negeri ini. Persoalan lainnya yang mencuat terkait pembangunan kilang yang mangkrak, UU Migas yang tak kunjung tuntas, tidak adanya cadangan energi strategis, dan kurangnya cadangan minyak penyangga. Juga persoalan penguasaan asing dalam kegiatan operasi migas di Indonesia  yang mencapai  86% dan mengontrol kurang lebih 60% jumlah produksi nasional.

Hal tersebut merupakan sebagian masalah  yang mendapat sorotan CESRI (Center for Energy and Strategic Resourches Indonesia), sebuah lembaga riset  terkait pengelolaan energi dan sumberdaya strategis.  Menurut Direktur Eksekutif CESRI, Dr Prima Mulyasari Agustini dalam release-nya yang diterima indoPetroNews.com, Selasa (8/4), untuk mengubah kondisi ini tidak bisa hanya bertumpukan kepada pemerintah. Tetapi juga setiap elemen bangsa terutama  para elit politik dan partai politik (Parpol) yang seharusnya mempunyai visi ke-energi-an, terutama dalam rangka mewujudkan kedaulatan dan ketahanan energi nasional sebagaimana yang termaktub pada Pasal 33 UUD 1945.

Setidaknya menjelang pemilihan umum 2014,  momentum tepat untuk mengetahui visi dan agenda Parpol kontestan pemilu terutama terkait dengan energi dan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA), seharusnya dapat tercermin dalam program lima (5) tahun kedepan (Platform partai). Pertanyaannya, sejauhmana Parpol telah mempunyai visi dan agenda strategis bidang energi  sesuai dengan cita-cita bangsa?, dan sejauhmana pula Parpol sensitif terhadap isu-isu dan kondisi aktual terkait dengan persoalan energi dan SDA nasional saat ini?

“Jika menilik dari program Parpol terkait sektor energi beserta janji-janji pada saat kampanye lalu,  masih memprihatinkan,  persoalan energi kurang mendapat sorotan serius dari Parpol,” ujar Prima pada release-nya di Jakarta (7/4 2014).

Pernyatan Prima ini merujuk penelitian yang dilakukan oleh CESRIyang berlangsung pada periode 2 Januari  hingga 28 Maret 2014. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dalam kajian ini diperoleh dari dokumen partai, wawancara, dan pengumpulan pemberitaan media massa, baik on line maupun off line selama periode tersebut.

Untuk mengetahui tingkat kepedulian Parpol terhadap persoalan energi dan SDA, CESRI melakukan penelusuran terhadap dokumen Parpol menyangkut visi-misi, platform dan agenda program Parpol. Disamping itu, juga digali pandangan elit Parpol terkait beberapa isu energi dan SDA kekinian, misalnya menyangkut subsidi BBM, renegosiasi kontrak, revisi UU Migas dan seterusnya. Ada tidaknya struktur pengurus parpol terkait dengan energi dan SDA juga menjadi penilaian tersendiri.

"Namun, sepertinya pemahaman pemimpin dan parpol pada aspek geopolitik dan geostrategi energi sangatlah minim, sehingga seolah-olah belum menjadi agenda mendesak dan kalah dengan isu lainnya,” jelas Prima. Padahal, lanjutnya, energi sangat terkait erat dengan agenda politik yakni tujuan berbangsa sebagaimana tertuang dalam UUD 1945.

Dengan menelusuri platform dan agenda Parpol kontestan Pemilu 2014 terkait energi dan pengelolaan SDA, CESRI melakukan pengelompokkan menjadi 4 kelompok, yakni: Pertama, topik terkait kedaulatan, ketahanan dan kemandirian energi  yang sering dimunculkan oleh Partai Keadilan dan Sejahtera (PKS), Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). “ Namun sayang, isu ini seolah hanya komoditas  politik semata, karena tanpa disertai strategi dan roadmap untuk mewujudkannya,” ujar Prima kembali. Partai Nasdem sebenarnya sudah memberikan  dua langkah strategis sebagaimana tertuang pada Buku Putih Restorasi Indonesia (halaman 30-31), namun ini dipandang belum cukup menjelaskan persoalan dan kebutuhan terkait kedaulatan dan kemandirian energi nasional.

Kedua, topik terkait perlunya dikembangkan energi baru dan terbarukan, cukup laris menjadi “jualan” hampir semua kontestan. Diantaranya, Nasdem, PKB, PDIP, Golkar, Demokrat, PPP dan Hanura. Misalnya, PKB yang hendak mendorong optimalisasi pemanfaatan  energi angin, air dan sinar matahari. Golkar melalui energi air, panas bumi, solar bahkan nuklir berbasis potensi wilayah masing-masing. Sementara Gerindra, hendak mendorong penggunaan gas dan panas bumi serta bioethanol. Bahkan partai besutan Prabowo Subianto ini merancang program pembukaan lahan 2 juta hektar untuk memproduksi bioethanol ini. Sedangkan PPP, hendak mendorong pemanfaatan energi dari gelombang air laut dan sawit. Sementara PBB juga tidak mau kalah, partai ini mendorong penggunaan listrik hidro power dengan sejumlah alasan.

“Topik mengenai energi baru dan terbarukan, selalu menjadi jualan setidaknya 2-3 Pemilu yang lalu, tetapi Parpol tidak menyampaikan evaluasinya mengapa program ini seolah jalan ditempat dan  instrumen kebijakan apa yang dibutuhkan untuk mempercepat pemanfaatan energi ini, ini yang saya kira urgent ditengah beban subsidi BBM yang semakin membengkak dan menjadi beban APBN,” lanjut Prima.

Ketiga, topik mengenai pembenahan tata kelola energi termasuk migas disuarakan oleh beberapa Parpol, diantaranya Nasdem, PKB, PKS, PDIP, Golkar, Demokrat, PPP, dan Hanura. Misalnya, Nasdem, PKB, Gerindra, PAN, PPP dan  PBB yang menyuarakan renegosiasi kontrak. Bahkan PKB mewacanakan nasionalisasi aset-aset asing bidang energi . Sedangkan PKS lebih mendorong kiprah NOC (Natuional Oil Company) lebih maksimal dalam pengelolaan energi dan migas nasional. Sementara PDIP, mendorong pelibatan pemerintah daerah dalam pengelolaan sumber energi dan migas nasional.

“ Banyak wacana yang sifatnya jargon dan memberi harapan-harapan belaka, tanpa menghitung resiko dan dampak lebih lanjut jika hal tersebut diimplementasikan. Hal ini seolah menunjukkan penguasaan masalah para elit Parpol terhadap isu ini belumlah komprehensif,” analisa Prima.

Keempat, topik berkenaan dengan BBM (Bahan Bakar Minyak).  Dalam hal ini, ada 2 hal, yakni: kebijakan konversi BBM ke gas  yang diusung Nasdem, PKB, PDIP, Gerindra, serta Demokrat, dan masa depan subsidi BBM yang diusung Nasdem, PDIP,PAN, PKPI, dan Hanura. Terkait dengan keberadaan subsidi, hanya satu partai yakni Golkar yang secara tegas menyatakan tidak perlu adanya subsidi ini. Sedangkan Parpol lainnya setuju adanya subsidi meskipun harus dilakukan pengurangan secara bertahap (kecuali PKS), dan dialokasikan untuk pengembangan energi baru dan terbarukan, penyediaan infrastruktur , program ekonomi kerakyatan yang padat karya dan seterusnya.

“Kami mencermati, beberapa parpol tidak konsisten dengan keputusan politiknya, misalnya ada yang menolak kenaikan harga BBM pada 2013 lalu, sekarang ternyata mendukung. Jadi sepertinya baru sebatas retorika politik  dan masih dinamis ,” kata Prima.

Hal lain, Prima menyoroti beberapa Parpol yang tidak memasukan secara tersendiri bidang energi dan SDA kedalam struktur Partai. Hal ini setidaknya menunjukkan tingkat keseriusan parpol terkait  pembangunan energi dan pengelolaan SDA  nasional.  Prima juga menyayangkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku institusi resmi tidak  mengumpulkan visi misi dan program-program energi dan SDA dari Parpol peserta pemilu seperti pada pemilu 2009 lalu. “Ini salah satu faktor yang membuat parpol tak punya visi, konsep dan agenda yang jelas, bagaimana persoalan-persoalan energi akan diselesaikan,” jelasnya kembali.

Hal ini juga bisa terlihat pada pemberitaan di media, umumnya konten yang disampaikan politisi berupa opini pribadi, sehingga cukup sulit dikatakan sebagai representasi pandangan partai secara resmi.  Sehingga tidak jarang, antar politisi berbeda pandangan meskipun berasal dari Parpol yang sama.  Ataupun adanya ketidakkonsitenan antar agenda pada parpol tertentu, sebut saja PKS  yang mengusung kedaulatan energi, sementara pada sisi lain menolak harga keekonomian BBM.

“Sepertinya Parpol gagal memaknai esensi dari energi sebagai bagian yang harus diperjuangkan dalam politik.  Energi memang masih dianggap isu yang tak penting dan mendesak, padahal kedudukannya sama penting dengan isu pangan dan ketahanan nasional,” pungkas Prima. Ksr/Brm


Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login