Presiden Direktur PT Pertamina Gas, Hendra Jaya kepada wartawan, Senin (15/9) memaparkan, produksi LNG makin sedikit, sehingga diputuskan fasilitas kilang LNG Arun diubah menjadi fasilitas regasifikasi.
"Jadi yang awalnya mengubah gas menjadi LNG, nantinya berbalik mendatangkan LNG lalu diubah menjadi gas," tutur Hendra.
Sejak awal tahun pihaknya sudah melakukan tahapan rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (EPC) untuk percepatan pembangunan fasilitas regasifikasi Arun.
Menurutnya, nilai proyek ECP ini mencapai US$ 100 juta. "Setelah Oktober ekspor terakhir, kita perlu waktu beberapa bulan sebelum akhirnya pada Januari 2015 sudah on stream, sudah melakukan regasifikasi," terangnya.
Ia menjelaskan, untuk proyek regasifikasi pertama Arun akan mendatangkan LNG dari Tangguh, Papua. Totalnya sebanyak 12 kargo. "PLN sudah sepakat untuk membeli 12 kargo LNG pada 2015. Gas hasil regasifikasi tersebut akan digunakan untuk pembangkit PLN," terangnya.
Seperti diketahui, PT Arun NGL didirikan pada 1974 dengan pemegang saham PT Pertamina (Persero) dengan 55%, ExxonMobil 30%, dan Japan Indonesia LNG Company (Jilco) 15%. Fasilitas yang ada di kilang LNG Arun ada 6 train LNG dan 2 train LPG. Pengapalan kondensat perdana adalah pada Oktober 1977, LNG pada Oktober 1978, dan LPG pada Agustus 1988.
Setelah berhenti produksi LNG, seluruh fasilitas Arun menjadi milik Indonesia. Dengan rincian, Pertamina akan memegang 70% saham sementara sisanya dimiliki Pemprov Aceh.(*/ris)


