indoPetroNews.com - Program konversi minyak tanah ke LPG (liquefied petroleum gas) di Indonesia ternyata belum tuntas. Terbukti, hingga saat ini wilayah Indonesia timur belum tersentuh program konversi tersebut. Daerah yang belum tersentuh itu antara lain Papua, Ambon, beberapa daerah di Sulawesi, Sumbawa serta Nusa Tenggara Timur.
"Adalah keterbatasan infrastruktur di wilayah timur yang menjadi faktor utama program konversi tidak berjalan," papar Gigih Wahyu Hari Iryanto, Vice President Domestic Gas Pertamina kepada wartawan termasuk indoPetroNews.com di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, (21/4).
Menurutnya, pemerintah pada 2007 hingga 2013 menargetkan konversi minyak tanah ke Elpiji 3 kg mencapai 58 juta kepala keluarga (KK). Hanya saja, ujar Gigih, selama enam tahun itu baru menyentuh 55,3 juta unit, sehingga, ada yang belum terpenuhi yang mencapai 2,3 juta unit paket perdana konversi.
Saat ini, lanjutnya, Pertamina diberi tugas untuk meneruskan program konversi tersebut. Untuk itu, pada 2014 pihaknya akan mengedarkan lebih dari 2,3 juta unit paket perdana konversi minyak tanah ke LPG 3 Kg.
“Untuk memenuhi sisanya itu akan 'digeber' pada 2014. Maka pada APBN-P 2014 kami menginginkan tambahan paket 800.000 unit untuk menyelesaikan,” ungkap Gigih.
Menurutnya, kawasan yang menjadi sasaran program konversi lanjutan pada 2014 ini, antara lain Sumbar, Bangka, Kalimantan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, ada sekitar 12 provinsi. "Tentu kita harapkan di daerah itu, minyak tanahnya bisa kering atau sudah tidak menggunakan minyak tanah lagi," katanya.
Gigih menyatakan, sesungguhnya pemerintah daerah (Pemda) bisa berinisiatif atau partisipasi aktif melakukan program konversi. "Program konversi yang dilakukan Pemda ini disebut konversi swadaya. Untuk konversi swadaya itu memang harus melalui persetujuan dari Kementerian ESDM," paparnya.
Pada 2015 ini, ia juga mengungkapkan, Pertamina akan membangun depot elpiji di Jayapura, Papua dengan kapasitas 2x2.500 metrik ton, guna memudahkan suplay terhadap kebutuhan gas di wilayah timur Indonesia. Di Sulawesi pun sudah tersedia depot elpiji berkapasitas 10.000 metrik ton. "Kita targetkan program nasional konversi elpiji 3 Kg sebanyak 58 juta Kepala Keluarga (KK) ini selesai tahun ini," paparnya.
Menurutnya, program konversi dari minyak tanah ke Elpiji 3 kilogram dari 2007 hingga Maret 2014 telah mampu menghemat subsidi bahan bakar sebesar Rp 115,6 triliun.
Gigih juga memaparkan, program konversi mulai dilakukan di tahun 2007. Program konversi ini dianggap penting karena banyak masyarakat yang menggunakan minyak tanah sebagai sumber energi rumah tangga, padahal pemerintah harus mensubsidi minyak tanah karena harga yang dijual di luar harga keekonomian.(ris)
"Adalah keterbatasan infrastruktur di wilayah timur yang menjadi faktor utama program konversi tidak berjalan," papar Gigih Wahyu Hari Iryanto, Vice President Domestic Gas Pertamina kepada wartawan termasuk indoPetroNews.com di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, (21/4).
Menurutnya, pemerintah pada 2007 hingga 2013 menargetkan konversi minyak tanah ke Elpiji 3 kg mencapai 58 juta kepala keluarga (KK). Hanya saja, ujar Gigih, selama enam tahun itu baru menyentuh 55,3 juta unit, sehingga, ada yang belum terpenuhi yang mencapai 2,3 juta unit paket perdana konversi.
Saat ini, lanjutnya, Pertamina diberi tugas untuk meneruskan program konversi tersebut. Untuk itu, pada 2014 pihaknya akan mengedarkan lebih dari 2,3 juta unit paket perdana konversi minyak tanah ke LPG 3 Kg.
“Untuk memenuhi sisanya itu akan 'digeber' pada 2014. Maka pada APBN-P 2014 kami menginginkan tambahan paket 800.000 unit untuk menyelesaikan,” ungkap Gigih.
Menurutnya, kawasan yang menjadi sasaran program konversi lanjutan pada 2014 ini, antara lain Sumbar, Bangka, Kalimantan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, ada sekitar 12 provinsi. "Tentu kita harapkan di daerah itu, minyak tanahnya bisa kering atau sudah tidak menggunakan minyak tanah lagi," katanya.
Gigih menyatakan, sesungguhnya pemerintah daerah (Pemda) bisa berinisiatif atau partisipasi aktif melakukan program konversi. "Program konversi yang dilakukan Pemda ini disebut konversi swadaya. Untuk konversi swadaya itu memang harus melalui persetujuan dari Kementerian ESDM," paparnya.
Pada 2015 ini, ia juga mengungkapkan, Pertamina akan membangun depot elpiji di Jayapura, Papua dengan kapasitas 2x2.500 metrik ton, guna memudahkan suplay terhadap kebutuhan gas di wilayah timur Indonesia. Di Sulawesi pun sudah tersedia depot elpiji berkapasitas 10.000 metrik ton. "Kita targetkan program nasional konversi elpiji 3 Kg sebanyak 58 juta Kepala Keluarga (KK) ini selesai tahun ini," paparnya.
Menurutnya, program konversi dari minyak tanah ke Elpiji 3 kilogram dari 2007 hingga Maret 2014 telah mampu menghemat subsidi bahan bakar sebesar Rp 115,6 triliun.
Gigih juga memaparkan, program konversi mulai dilakukan di tahun 2007. Program konversi ini dianggap penting karena banyak masyarakat yang menggunakan minyak tanah sebagai sumber energi rumah tangga, padahal pemerintah harus mensubsidi minyak tanah karena harga yang dijual di luar harga keekonomian.(ris)


