indoPetroNews- Ada pergeseran pemikiran dalam perkembangan industri minyak dan gas bumi (migas). Semula ada paradigma kemandirian energi kemudian berubah menjadi ketahanan energi. Mengapa?
“Seluruh komponen bangsa harus mempunyai pemikiran yang sama. Karena dulu, justru lebih kepada kemandirian energi. Artinya, kita berusaha untuk tidak tergantung kepada negara lain,” kata anggota Komisi VII DPR, Satya W Yudha, dalam sebuah diskusi pada Kamis (30/3/2017) di Jakarta. Kini pemikiran tersebut mulai bergeser dari kemandirian energi menjadi ketahanan energi.
Prinsip ketahanan energi bukan hanya berlaku di dalam negeri. Banyak negara menerapkan prinsip tersebut. “Termasuk negara yang tidak memiliki sumberdaya alam. Misalnya Jepang dan Singapura,” katanya. Yang dipentingkan adalah adanya suplai energi yang sesuai dengan kebutuhan dan harganya kompetitif.
Dan yang bagi Indonesia, sebenarnya tidak perlu mengekstrak seluruh potensi/cadangan sumber daya alam tetapi bisa tetap survive. “Ujungnya adalah kita mempunyai ketahanan energi. Tentu saja paradigma kemandirian energi ini sudah bergeser dari beberapa waktu lalu,” katanya.
Oleh karena itu, katanya, pemerintah harus lebih berinovasi dalam mengeluarkan regulasi industri migas agar pengelolaannya lebih kompetitif dan menciptkan iklim yang menarik bagi investor. “Misalnya menawarkan jenis kontrak baru yang lebih menarik, mengatur ulang peraturan yang selama ini dianggap menghambat, dan lain semacamnya,” katanya. (Sofyan)
Home »
Ketahanan Energi Jadi Prioritas Ketimbang Kemandirian Energi
» Ketahanan Energi Jadi Prioritas Ketimbang Kemandirian Energi


