indoPetronews.com - Program pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) di berbagai negeri tidak ada yang lepas dari campur-tangan negara. "Baik menyangkut fiskal dan budgeting," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Archandra Tahar, dalam acara "Innovate Breakthrough to Achieve 7000 MW Geothermal Development by 2025" di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.
Pemerintah, lanjut Archandra Tahar, memberi kemudahan-kemudahan kepada para pelaku bisnis EBT, seperti beragam insentif. "Renewable energi bukan pilihan kita, tapi keharusan. Sebab masa depan energi kita bukan lagi di fosil," tegas Archandra.
Archandra yang baru dilantik sebagai Menteri ESDM menggantikan posisi Sudirman Said, memaparkan soal tantangan merealisasikan EBT. Diantaranya adalah soal tumpang-tindih lahan
(untuk sektor pengembangan geothermal). Selain itu, juga menyangkut harga jual kepada konsumen akhir (off taker) dan teknologi. "Kita masih dalam tahap penguasaan teknologi geothermal," tandas Archandra, sembari mengimbuhkan New Zealand merupakan negara yang mengembangkan geothermal dan direkomendasikan untuk belajar ke negara tersebut. Skema belajar itu beragam, kata Archandra, bisa dengan pertukaran (klasik), study dan joint industrial project.
Pemerintah Indonesia mentargetkan pengembangan EBT (geothermal) hingga mencapai 7.000 MW. Tentu saja ini target ambisius karena hingga saat ini total kapasitas geothermal Indonesia sebesar 1493,5 MW. Artinya, masih terdapat kekurangan sebesar 5500 MW yang harus dipenuhi hingga 10 tahun mendatang. (Sofyan)
Home »
energi terbarukan
,
Energi Geothermal
,
petronews
» Menteri ESDM : Masa Depan Energi Indonesia Bukan Fosil
Menteri ESDM : Masa Depan Energi Indonesia Bukan Fosil
Written By Unknown on Wednesday, 10 August 2016 | 17:11
Labels:
energi terbarukan,
Energi Geothermal,
petronews


