Untuk itu, orientasi kepentingan domestik harus ditingkatkan guna mendukung hilirisasi dan menciptakan lapangan kerja baru. Demikian diungkapkan, Prof Tumiran, anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2014-2019 saat dihubungi indoPetroNews.com.
Menurutnya, saat ini sudah waktunya meningkatkan hilirisasi dengan menaikan nilai tambah dengan transformasi “brainware dan skill” SDM Indonesia yang unggul. "Apabila transformasi “brainware dan skill” SDM Indonesia yang unggul tercapai, tentu akan dapat meningkatkan devisa dengan produk-produk unggulan atau secara bertahap dapat mengurangi ketergantungan domestik terhadap negara-negara lain," terangnya.
Ia mencontohkan, Jepang, Korea dan Singapura adalah negara yang tidak memiliki sumber daya energi maupun mineral, namun dengan tranformasi “Brainware dan skill” SDM negara tersebut secara ekonomi dan teknologi telah menjadikan negaranya sebagai negara yang unggul di dunia. Pria yang berhasil mengambil gelar doktor pada 1996 di Saitama University, Jepang dengan beasiswa dari Pemerintah Jepang (Monbusho) , di bidang Production and Information Sciences ini berharapkan, pemerintah mendatang bisa mempercepat pembangunan infrastuktur energi terutama, listrik dan gas untuk mendukung hilirisasi industri, agar tercipta nilai tambah bagi industri-industri lain.
"Dengan infrastruktur energi di dalam negeri yang kuat, akan tercipta pasar yang menampung sumber daya energi dan diikuti oleh terciptanya lapangan kerja baru, sehingga akan berdampak juga pada penguatan ekonomi nasional yang secara bertahap dapat mengatasi permasalahan ekonomi bangsa seperti pengangguran dan lainnya," papar Tumiran.
Ia menambahkan, untuk meningkatkan kemampuan keuangan pemerintah dalam membangun infrastruktur energi nasional. Hal itu bisa dilakukan dengan pengurangan subsidi BBM dan Listrik. Dana hasil pengurangan tersebut dialokasikan khusus untuk infrastruktur energi.(ris)


