Ia menjelaskan, selama ini kilang yang Cilacap saja masih menggunakan bahan baku minyak mentah dari hasil impor. "Ya begini, perlu juga diketahui jika selama ini kilang Cilacap saja, crude oil (minyak mentah)-nya masih impor, apa itu tidak menjadi pertanyaan," ungkap Edy. Ia menyatakan, membangun kilang itu memang harus ada kepastian pasokan minyak. Kendati begitu, ia berharap, persiapan pembangunan kilang bisa segera selesai, agar ketentuan waktu pelaksanaan pembangunan kilang bisa didapat.
Sebelumnya, sejumlah kalangan mendesak pemerintah agar melakukan pembangunan kilang pengolahan minyak baru di tanah air. Salah satunya dari kalangan akademisi. Dekan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti, Sugiatmo Kasmungin, Ph.D memaparkan, keberadaan kilang nasional yang ada saat ini memang belum bisa memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Dengan begitu, ungkap Kasmungin, pemerintah idealnya bisa membangun kilang demi terciptanya ketahanan energi yang tangguh. "Apabila ada kemauan kuat dari pemerintah, saya kira bukan hal yang mustahil pembangunan kilang itu bisa terlaksana," terangnya.
Di sisi lain, anggota Komisi VII DPR, Dito Ganinduto menilai, pembangunan kilang minyak baru memang merupakan hal yang sudah mendesak. Soalnya, kebutuhan akan BBM terus meningkat seiring pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi nasional. Ia mengatakan, pembangunan kilang itu perlu dilakukan, agar subsidi BBM bisa ditekan. Pada tahun 2013 subsidi BBM mencapai Rp 300 triliun. Apabila, anggaran itu dialokasikan ke pembangunan lain akan lebih bermanfaat.(ris)


